Komplek Matahari Residence Blok D 10 Baleendah, Bandung +62 857 2030 9432
Activity, harimau jawa

Wartapalaindonesia.com, EKSPEDISI – Selepas pembukaan, agenda hari pertama materi pembekalan Ekspedisi Pencinta Alam Indonesia 2018 “Menjemput Harimau Jawa” dimulai di kantor Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I Panaitan, Taman Nasional Ujung Kulon, Taman Jaya, Pandeglang, Banten, Minggu (24 Juni 2018).

Materi pembekalan diawali pemaparan Kawasan Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) oleh Mila, Staf Kantor Balai Labuhan, Taman Nasional Ujung Kulon.

Dalam pemaparannya, Mila menjelaskan akan pentingnya peran anggota Pencinta Alam dalam menjaga dan melestarikan alam dan lingkungan. Sedangkan ekspedisi ini merupakan aksi nyata dari Pencinta Alam Indonesia.

Materi pembekalan selanjutnya dibawakan oleh Sofyan Eyanks dari perhimpunan Sanggabuana. Team building yang dibawakannya, membawa atmosfer semakin hidup dan menjadi titik awal membangun kekompakan peserta ekspedisi.

Di sini peserta dibagi menjadi enam kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari enam orang yang nantinya masing-masing kelompok akan di ploting dalam kawasan gunung Payung, Taman Nasional Ujung Kulon.

Uniknya, dalam ekspedisi kali ini panitia dan peserta melebur jadi satu. “Ini acara kita, panitia dan peserta adalah satu tim,” ujar Sofyan Eyanks.

“Sesuai konsep pra ekspedisi, ekspedisi dan pasca ekspedisi. Adanya pembentukan panitia adalah untuk persiapan taktis dan set up ekspedisi. Saat ekspedisi, semua akan bersama-sama melakukan penelitian,” tambahnya.

Sadar akan pentingnya persiapan pra ekspedisi. Tim mempersiapkan manajemen perjalanan ekspedisi yang dipandu oleh Hasto dari Yayasan Astacala (YASTA).

“Manajemen perjalan dilakukan sebab ekspedisi ini ada visi misinya,” ungkap Hasto di kantor Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I Panaitan, Taman Nasional Ujung Kulon, Taman Jaya, Pandeglang, Banten, Senin (25 Juni 2018).

“Visi jelas menolak pernyataan punah, misinya pendokumentasian keberadaan harimau jawa, minimal jejak. Lalu kelola secara baik dengan manajemen secara baik, sehingga efektif dan efesien,” tambahnya.

Manajemen ekspedisi mencari harimau jawa tentu berbeda, sebab target yang dicari merupakan satwa liar yang bergerak dinamis, sehingga konsep penelitian disesuaikan.

“Kita punya titik-titik kawasan utama yang akan dieksplorasi dan diteliti berdasar informasi keberadaan harimau,” jelas Hasto yang juga alumni ekspedisi Harimau Jawa di Taman Nasional Meru Betiri tahun 1997.

“Artinya kita harus memiliki pengetahuan dan pemahaman mengenai perilaku harimau, mulai dari habitat, makanan, hingga pergerakan harimau tersebut, tambah Hasto.

Disinggung tentang target realistis ekspedisi, Hasto menekankan, “bukan hanya ketemu harimau jawa dan melawan pernyataan punah. Tapi juga mencetak kader generasi yang peduli akan kelestarian harimau jawa.”

Kontributor : Alton Phinandhita (Wartapala Indonesia)

0

Activity, harimau jawa

Wartapalaindonesia.com, EKSPEDISI – Moh. Hariono, mewakili Kepala Direktorat Jenderal KSDAHE Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan membuka Ekspedisi Pencinta Alam Indonesia 2018 “Menjemput Harimau Jawa” di kantor Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I Panaitan, Taman Nasional Ujung Kulon, Taman Jaya, Pandeglang, Banten, pada pukul 10.00 WIB, Minggu (24 Juni 2018).

“Menjemput merupakan melakukan suatu hal terhadap sesuatu yang sudah ada. Oleh sebab itu, menjemput harimau jawa ini diselenggarakan untuk merespon dan meyakinkan publik tentang keberadaan harimau jawa yang menurut beberapa sumber diyakini keberadaannya, bukan hanya di Taman Nasional Ujung Kulon,” ujar Moh. Hariono dalam sambutannya.


“Kita harus bekerja secara profesional, dengan memberikan data absolute tentang keberadaan harimau jawa. Semoga ekspedisi di gunung Payung, Cibunar nanti bisa ketemu dan bisa membuktikan keberadaan harimau jawa. Meskipun dikatakan punah, tapi kita harus melakukan pembuktian dengan data signifikan. Sebab selama ini belum ada foto dan video yang membuktikan keberadaan harimau jawa,” lanjutnya.


“Meski peserta berasal dari berbagai latar belakang disiplin keilmuan, namun semua peserta merupakan anggota pencinta alam. Selain bentuk advokasi pencinta alam terhadap harimau jawa, kegiatan ini merupakan bakti dan tanggung jawab pencinta alam terhadap peran Pencinta Alam Indonesia dalam KSDAE,” tambahnya disambut tepuk tangan peserta.


Ekspedisi Pencinta Alam 2018 “Menjemput Harimau Jawa” diikuti oleh 50 orang peserta berasal dari anggota organisasi Pencinta Alam se Indonesia yang lolos ketentuan ekspedisi.


Penyelenggara kegiatan sendiri dikelola secara bersama antara ; Yayasan ASTACALA, KAPPALA Indonesia, Peduli Karnivor Jawa (KPJ), PMPA – ASTACALA Telkom University Bandung, Perhimpunan SANGGABUANA, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), MAPALASKA UIN Sunan Kalijaga, KPLH RANITA, UIN Syarif Hidayatullah, BINGKAI Indonesia, Lesksa Ganesha Yogyakarta, Kedai JATAM, dan Ikatan Alumni SABHAWANA.


Ekspedisi Menjemput Harimau Jawa dilaksanakan di Taman Nasional (TN) Ujung Kulon selama 15 hari mulai Minggu (24 Juni 2018) hingga Minggu (8 Juli 2018).


Dengan rangkaian kegiatan pembekalan peserta ekspedisi pada Minggu (24 Juni 2018) hingga Rabu (27 Juni 2018). Penelitian lapangan dilaksanakan mulai Kamis (28 Juni 2018) hingga Minggu (8 Juli 2018) dan Eksebisi hasil ekspedisi dilaksanakan pada Sabtu (18 Juli 2018).


Rangkaian kegiatan pembukaan ekspedisi diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dilanjutkan pembacaan Kode Etik Pencinta Alam Indonesia.


Widi Widayat Ketua Panitia dalam sambutannya berharap agar hasil ekspedisi kali ini akan muncul bibit militan dalam penelitian terhadap keberadaan harimau jawa.


“Sebab apabila kita dapat menemukan bukti-bukti tentang keberadaan harimau jawa, kita akan bisa melindungi habitat dan ekosistemnya,” ujarnya.


“Semoga dari ekspedisi ini, kita dapat mendapatkan bukti-bukti absolute terbaru akan kehadiran harimau jawa, sehingga kita dapat menjaga habitat dan mengembalikan ekosistem harimau jawa,” tambah anggota PMPA-Astacala tersebut.


Sambutan dari Kasi 2 Balai Taman Nasional Ujung Kulon, Ujang Asep, mendukung dab berterimakasih sebab masih ada yang mau membuktikan keberadaan harimau jawa.


“Perlu diingat bahwa keberadaan harimau jawa bukan hanya di Taman Nasional, bisa juga di kawasan lain seperti Hutan lindung,” wanti Ujang Asep menekankan.


Ekspedisi kali ini, sengaja diselenggarakan tanpa sponshor dari pihak manapun. Abilitas operasional dilakukan secara swadaya dengan dukungan volunteer dan peserta ekspedisi.


Seluruh rangkaian kegiatan diharapkan akan melahirkan rekomendasi dan rencana tindak lanjut dari berbagai temuan di lapangan maupun menindak lanjuti informasi keberadaan harimau jawa di wilayah lain.


Eksklusif report
www.wartapalaindonesia.com
Kontributor : Alton Phinandhita (Wartapala Indonesia)
Editor : Nindya Seva

0

Perdebatan masih atau tidaknya Harimau Jawa (Panthera tigris sondaica) terus bergulir sejak IUCN menetapkannya terancam punah dan dinyatakan punah pada tahun 1973. Pernyataan selanjutnya didukung oleh WWF pada tahun 1996 setelah melakukan penelitian di TN Merubetiri dengan menggunakan kamera penjebak system injak.

0

Penurunan kualitas lingkungan Sungai Citarum telah berpengaruh pada kondisi masyarakat yang tinggal di sepanjang bantaran sungai, baik di kawasan pedesaan maupun perkotaan. Hampir setiap musim hujan, bencana banjir mengancam berbagai kawasan di Jawa Barat. Pencemaran air sungai akibat aktivitas industri dan pertanian telah mencapai tingkat yang membahayakan dan dapat mengancam kesehatan serta sumber penghidupan masyarakat.

0

Citatah adalah daerah pertambangan kapur yang sangat produktif. Pertambangan ini sudah berlangsung sejak pertengahan abad ke–19 dan terus berlangsung hingga kini. Tentu saja, dulu belum seaktif sekarang yang sudah menggunakan alat canggih dan dinamit untuk meledakkan bagian bukit yang mengandung gamping yang berdampak buruk terhadap kawasan Citatah sendiri.

0

BANDUNG – Ratusan mahasiswa pencinta alam dan penggiat konservasi berkumpul di Gedung Manterawu Telkom University mengikuti diskusi penyelamatan ekosistem dalam acara sarasehan pencinta alam yang diselenggarakan PMPA (Perhimpunan Mahasiswa Pecinta Alam) Astacala Universitas Telkom, bertepatan dengan peringatan Hari Bumi yang jatuh pada 22 April setiap tahunnya.



“Salah satu tujuan kegiatan ini adalah untuk memberikan pemahaman mengenai kondisi kritis ekosistem saat ini khususnya di pulau Jawa kepada pencinta alam ataupun penggiat konservasi agar dapat menjalin kerja sama yang sinergis dan berkelanjutan dalam menyelamatkan dan memulihkan ekosistem Jawa,” tutur Ketua Pelaksana Niken Galuh Ramadhani di Bandung, pada Rabu(26/4). 

Niken mengatakan bahwa sarasehan nasional pencinta alam merupakan yang pertama kali digelar Astacala mendekati usianya yang ke-25 tahun, berawal dari ide reuni anggota Ekspedisi Harimau Jawa yang dilakukan 20 tahun silam.

Melalui tema “Pencinta Alam Menyelamatkan dan Memulihkan Ekosistem Pulau Jawa diharapkan muncul kesadaran pencinta alam untuk segera beraksi merumuskan gagasan-gagasan konkret yang dapat direalisasikan dalam menyelamatkan dan memulihkan ekosistem Jawa.

Walaupun bertemakan pencinta alam, peserta yang menghadiri acara terdiri dari berbagai latar belakang studi dan keahlian. ”Kami memang tidak hanya mengundang organisasi pencinta alam, tetapi juga kawan-kawan dari organisasi yang bergerak di bidang konservasi, penyelamatan satwa serta himpunan mahasiswa jurusan biologi, kehutanan, juga kedokteran hewan” ungkap Niken.

Niken menyebutkan kegiatan sarasehan pencinta alam terdiri dari beberapa rangkaian, yaitu diskusi panel, workshop tematik, dan pemutaran film dokumenter yang berlangsung sejak pagi hingga menjelang malam.

Dalam sesi diskusi panel Astacala menghadirkan narasumber dari Direktorat Pencegahan Dampak Lingkungan Kebijakan Wilayah dan Sektor (PDLKWS), Wahyu Giri Prasetyo selaku salah satu peneliti dalam Ekspedisi Harimau Jawa, Rosdi Bahtiar Martadi dari Banyuwangi’s Forum For Environmental Learning (BaFFEL), dan Eko Teguh Paripurno selaku Presidium Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia (MPBI), serta moderator oleh Siti Maimunah yang merupakan mantan Koordinator Nasional JATAM dan peneliti dari Sajogyo Institute.

Dalam pemaparan pertama oleh Sasmita Nugroho dari PDLKWS, Ia memamparkan kondisi daya dukung dan daya tampung berdasarkan jasa ekosistem di pulau Jawa saat ini.

Jasa ekosistem adalah manfaat yang diperoleh manusia dari suatu ekosistem dimana diklasifikasikan menjadi 4 fungsi, yakni: penyediaan, pengaturan, budaya, dan pendukung. Dia mengambil contoh salah satu fungsi penyediaan, yaitu untuk kebutuhan air dan pangan.

“Konsumsi menjadi salah satu permasalahan ekosistem. Ketersediaan air di Jawa sudah sangat timpang antara kebutuhan dan ketersediannya,” jelas Sasmita Nugroho.

0